Berkah kopi Berkah Negeri

Negara ini telah di kutuk untuk mencintai kopi. Tak peduli situasi dan tingkat ekonomi masyarakat. Kopi bisa ditemukan dimana-mana.

Tuhan Dalam Secangkir Kopi

Tuhan ada di mana-mana, bahkan dalam secangkir kopi. Pertanyaannya adalah, apakah kita mau menemuin Nya?.

Filsafat Kopi

Seperti kopi, Tuhan menyeduh dua sisi paling sakral dalam hidup manusia. Kebaikan dalam manisnya dan kejahatan dalam seduh pahitnya.

Minuman Kopi adalah manifestasi kehidupan

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari sebuah minuman kopi, dengan kehangatan kopi sebuah cerita akan terus mengalir.

Biji Kopi

Dari biji kopi pilihan akan menyebabkan rasa kopi terbaik, demikian pula dengan kehidupan yang dijalani oleh manusia.

Rabu, September 27, 2017

Rayya : Kupu-Kupu

"Ada apa denganmu?" Suara lembut itu kembali membuat Rayya termenung berpikir. Padahal kepalanya sudah pusing dan lelah dengan semua kejadian yang dialaminya.

"Aku capek." Rayya menyahut cepat.

Hembusan angin membelai rambut indahnya. Rayya terdiam kembali, matanya menatap kosong secangkir moccacino hangat yang baru di hidangkan. Kemudian Arya melanjutkan pembicaraannya.

"Apakah menurutmu semua kejadian yang kau alami adalah sebuah kebetulan semata?"

"Apa kau kira orang-orang yang kau temui selama ini adalah sebuah hal yang wajar saja"

"Kebetulan adalah kesengajaan Tuhan yang belum kita ketahui maknanya. Yang terlihat kebetulan adalah ujung dari peristiwa-peristiwa sebelumnya, baik yang direncana maupun tidak. Kebetulan bisa terjadi karena campur tangan manusia, dan bisa jadi, lebih dari itu, kekuatan di luar manusia, kekuatan yang menciptakan manusia."

"Tapi aku lelah." Rayya menatap arya sejenak, kemudian keluarlah apa yang selama ini dia rasakan.

"Aku ingin istirahat sejenak dari rutinitas ini. Aku ingin istirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia ini. Aku ingin istirahat sejenak melepas lelah yang sedang kurasakan. Aku ingin istirahat walau hanya sekejap. Aku lelah"

"Sebenarnya apa yang kau cari? Apa yang kau inginkan? Untuk menemukan saja gak akan cukup sepanjang umur, apalagi untuk mencari. Kita harus menyerahkan diri/tawakkal kepada Tuhan, biarkan Tuhan yang membimbing kita, memperjalankan kita, seperti saat Nabi Muhammad diperjalankan dari masjidil harom ke masjiidil aqso dan kemudian ke sidratul muntaha."

"Jika kita sudah di perjalankan oleh Tuhan, maka segala semua kehidupan kita akan dijamin oleh-Nya. Dalam perjalanan kita menemukan berbagai peristiwa, pembelajaran dalam hidup untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia."

"Istirahat boleh, tapi jangan sampai tidak punya tujuan. Live life like a butterfly, take a rest but never forget to fly" Arya mengakhiri obrolannya dengan Rayya. Dan Arya pun harus bergegas pergi karena namanya telah di panggil oleh petugas bandara...

Kadang semesta seakan bergerak lambat jika kita menyadari bahwa orang-orang dan kejadian di masa lalu akan menjadi pelajaran untuk mempersiapkan bertemu dengan orang-orang yang seirama dan tulus di masa depan.

Seperti puzzle, merangkai, mensinkronkan segala yang ditemukan dalam hidup ini. Istirahat sejenak, itu akan membuat kita melihat semuanya secara jelas.




Rabu, Agustus 23, 2017

Hidup Yang Bermanfaat

Kutipan dari Bung Karno, ada di buku berjudul “Mutiara Kata Bung Karno untuk Rakyat Indonesia” susunan Wawan Tunggul Alam, SH.

Saya tidak tahu, akan diberi hidup oleh Tuhan sampai umur berapa. Tetapi permohonanku kepadaNya ialah, supaya hidupku itu hidup yang manfaat. Manfaat bagi tanah air dan bangsa, manfaat bagi sesama manusia. Permohonanku ini saya panjatkan pada tiap-tiap sembahyang. Sebab, Dialah Asal segala Asal. Dialah ‘Purwaning Dumadi‘.” (6 Juli 1957).



Senin, Agustus 21, 2017

Filosofi Gula

Kasus 1
Jika kopi terlalu pahit
Siapa yang salah..?
Gula lah yg disalahkan karena terlalu sedikit hingga "rasa" kopi pahit

Kasus 2
Jika kopi terlalu manis
Siapa yg disalahkan..?
Gula lagi karena terlalu banyak hingga "Rasa" kopi manis

Kasus 3
Jika takaran kopi dan gula balance
Siapa yg di puji...?
Tentu semua akan berkata...
Kopinya mantaaap
Kemana gula yang mempunyai andil
Membuat "rasa" kopi menjadi mantaaap



Mari Ikhlas seperti Gula yg larut tak terlihat tapi sangat bermakna.

Gula PASIR memberi RASA MANIS pada KOPI, tapi orang MENYEBUTnya KOPI MANIS... bukan KOPI GULA...

Gula PASIR memberi RASA MANIS pada TEH, tapi orang MENYEBUTnya TEH MANIS... bukan TEH GULA...

ORANG menyebut ROTI MANIS... bukan ROTI GULA...

ORANG menyebut SYRUP Pandan, Syrup APEL, Syrup JAMBU....
padahal BAHAN DASARnya GULA....

Tapi GULA tetap IKHLAS LARUT dalam memberi RASA MANIS...
akan tetapi apabila berhubungan dgn Penyakit, barulah GULA disebut..PENYAKIT GULA

BEGITUlah HIDUP.... Kadang KEBAIKAN yang Kita TANAM tak pernah diSEBUT ORANG....
Tapi kesalahan akan DIBESAR-BESARKAN...
IKHLASlah seperti GULA...
LARUTlah seperti GULA...
Tetap SEMANGAT memberi KEBAIKAN...!!!!
Tetap SEMANGAT menyebar KEBAIKAN..!!!
Karena KEBAIKAN tidak UNTUK DISEBUT...
tapi untuk DIRASAkan...

~~ "Kebaikan yang engkau lakukan HARI INI, mungkin BESOK dilupakan ORANG. Tetap teruslah BERBUAT BAIK..!"☕☕☕☕

Eling Marang Gusti

Ning nang ning gung...
Ning nang ning gung...
Eneng bocah kuncung...
Nunggang prau jebule Lesung...

Terdengar sayup suara simbok2 tua 'ngudang' cucunya yg tertawa kegirangan...

Wis tekan titi wancine le...
Aku wis tuwo...
Ojo lali marang Gusti...
Apapun yang terjadi itu Takdire Ingkang Gusti...
Nerimo kanthi Sabar lan tawakal...

Ojo lali yho le...
ELING MARANG GUSTI ALLAH...
Silahkan engkau berjalan diatas bumi,
sebelum bumi ini KUamblaskan... KUtenggelamkan... KUgoncangkan...KUbelah... KUhancurkan...KUjadikan lautan...
Kalian sebut pulau ini Jawa dwipa...
Tanah syurga... Tanah indah nan subur...
Sepotong tanah Syurga katanya...
dimana tongkat dan batu jadi tanaman...
Silahkan kau berjalan, berlari, terbang, selagi kau bisa dan kau mampu...

Ning nang ning gung...
Ning nang ning gung...
Kurindukan suara itu...


Selasa, April 11, 2017

Abu Yazid Al-Busthami Dan Baitullah (Rumah Allah)

Diriwayatkan oleh Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi, bahwa suatu hari ketika Abu Yazid al-Busthami sedang dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, beliau menyempatkan diri mampir mengunjungi temannya, seorang Sufi di Bashrah.



Secara langsung dan tanpa basa-basi, Sufi itu menyambut kedatangan beliau dengan sebuah pertanyaan:

"Apa yang anda inginkan hai Abu Yazid?"

Abu Yazid pun segera menjelaskan:
"Aku hanya mampir sejenak, karena aku ingin menunaikan ibadah haji ke Makkah."

"Cukupkah bekalmu untuk perjalanan ini?" tanya Sang Sufi.

"Cukup" jawab Abu Yazid.

"Ada berapa?" Sang Sufi bertanya lagi.

"200 dirham" jawab Abu Yazid.

Sang Sufi itu kemudian dengan serius menyarankan kepada Abu Yazid:

"Berikan saja uang itu kepadaku, dan bertawaflah di sekeliling hatiku sebanyak tujuh kali".

Dengan tenang, Abu Yazid pun mematuhi dan menyerahkan 200 dirham itu kepada Sang Sufi tanpa ada rasa ragu sedikitpun.

Selanjutnya Sang Sufi itu mengungkapkan:

"Wahai Abu Yazid, hatiku adalah rumah Allah, dan ka'bah juga rumah Allah. Hanya saja perbedaan antara ka'bah dan hatiku adalah, bahwasanya Allah tidak pernah memasuki ka'bah semenjak didirikannya, sedangkan Dia tidak pernah keluar dari hatiku sejak hatiku dibangun oleh-Nya (semenjak diprosesi PHQ = Pengangkatan Hijab-Qolbu / Kerak-Dosa, dengan izin dan rahmat-Nya semata)"
.
Abu Yazid hanya menundukkan kepala, dan Sang Sufi itupun mengembalikan uang itu kepada beliau dan berkata:

"Sudahlah, lanjutkan saja perjalanan muliamu untuk berkunjung ke Bait Kudus-Nya, menjadi Tamu Allah." perintahnya.

Demikianlah peristiwa yang kemudian menggerakkan hati Abu Yazid untuk memasuki Dunia Sufi dan mempelajari Ilmu Tasawuf dan mengamalkannya dengan memasuki Tarikat Shiddiqiyah yang digagas dan dirintis oleh Sahabat Nabi Besar Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Di kelak kemudian hari, Abu Yazid al-Busthami menjadi seorang Guru Sufi yang Waliyyam-Mursyida (Syaikh Mursyid). Beliau adalah Sufi Agung yang menjadi Sulthanul 'Awliya (Al-Ghauts, Quthb) pada zamannya yang menggagas dan mendirikan Tarikat Thaifuriyyah yang diambil dari nama kecil beliau: Thaifur.

Beliau sangat terkenal di Langit Ketinggian Ilahi dan di Dunia Sufi. Beliau sangat tidak asing lagi di hati para penimba ilmu tasawuf, khususnya tasawuf falsafi. Beliau wafat sekitar tahun 261 H.
Sedangkan Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi (yang meriwayatkan kisah di atas) adalah juga seorang Sufi Agung / Guru Sufi yang Waliyyam-Mursyida (wafat tahun 645 H) yang telah banyak menganugerahkan inspirasi dan motivasi spiritual kepada salah seorang muridnya yang di kemudian hari menjadi Sufi Agung / Guru Sufi yang Waliyyam-Mursyida (Syaikh Mursyid), yang sangat terkenal di Akhirat dan dunia, yaitu Syaikh Jalaluddin ar-Rumi, penggagas dan pendiri Tarekat Maulawiyah (wafat tahun 672 H).